• GRAND Opening Indonesia Modest Fashion Week 2018 diadakan di Cendrawasih Room Jakarta Convention Center, Kamis (04/10/2018). IMFW 2018 mengusung objek Heritage along The Coast of Indonesia yang mendatangkan karya paling baru dari 100 disainer berpotensi Indonesia. Diantara tamu undangan yang datang dalam upacara pembukaan ialah Duta Besar Serbi bersama-sama istri, John Simbi bertindak sebagai Direktur Mistindo Graha Expotainment bertindak sebagai penyelenggara, ikut banyak tokoh wanita Indonesia seperti Mien Uno, Dewi Motik, serta Poppy Dharsono. Acara di buka dengan tarian Ratoh Jaroe dari Aceh yang melambangkan kesatuan serta kepahlawanan. 

     

    Dalam sambutannya, Jeny Tjahyawati jadi President Indonesia Modest Fashion Designer menjelaskan bagaimana industri modest fashion kian kreatif serta berkemampuan saing, dan selalu mendatangkan kapasitas serta warna baru yang siap berkembang lebih luas.. “IMFW berubah menjadi etalase fesyen dunia yang menghadirkan kekayaan budaya Indonesia,” tutur Jeny. 

    Di buka dengan cara sah oleh Direktur Jenderal Industri Kecil serta Menengah Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih, IMFW 2018 kental mendatangkan kekayaan budaya Indonesia ke basis modest fashion yang lebih ready to wear. Gati menuturkan kalau dunia fesyen terpenting fesyen muslim sudah bekerja berubah menjadi satu kebolehan industri yang begitu menjanjikan. IMFW dianggap pintar dalam memberi respon kapasitas itu. 

     

    Parade karya Si.Se.Sa, Novita Sari, Nina Nugroho, Inez Kanthhahuri, Indah Ederra, Nani Oktaviani, Dhyani Sempurna, Yus Oktavia, IRD by Indriya R Dani, Ollyn Rasyid. DARRABIRA, Chintami Atmanagara meramaikan acara pembukaan sekaligus juga mengucapkan Perduli Donggala-Palu. Pakaian yang tampil dapat dilelang yang akhirnya diperuntukkan untuk banyak korban petaka alam di Donggala serta Palu. 

     

    Indonesia Modest Fashion Week 2018 berjalan pada 3 – 7 Oktober 2018 di Cendrawasih Room Jakarta Convention Center. Datang juga disainer luar negeri salah satunya asal Malaysia, Singapura, serta Korea yang meramaikan IMFW 2018. Lebih dari 200 brand ikuti exhibition yang siap memanjakan banyak pencinta modest fashion dengan bermacam trend paling baru serta harga promo yang mengundang selera

    Baca berita Fashion lainnya di detikfashion.com


    your comment
  • JAUH sebelum menggagas Populasi Desainer Etnik Indonesia (KDEI), Raizal Rais udah banyak bertarung untuk jati diri fesyen tanah air. Diantaranya, berikan pakem baju muslim yg tidak menyalahi syariat. Lantas sewaktu situasi kesehatannya gak kembali sempurna, pribadi yg lebih senang di panggil Boeyoeng ini terus menerus bertarung untuk perubahan fesyen Indonesia. 

     

    Kehidupan seseorang Raizal Rais dapat di sebut demikian berwarna. Dilahirkan di Jakarta, 64 tahun yang lalu dari pasangan asal Minang H. Rais Taim serta Hj. Rosma Rais, Boeyoeng kecil sering jadi pemenang lomba menggambar, suka menari tarian tradisionil Jawa, turut sang kakak belajar salon. Biarpun datang dari keluarga pengusaha papan atas, Boeyoeng malah menunjukkan minatnya pada dunia seni. 

     

    Selesai sang bapak wafat dalam kecelakaan pesawat di tahun 1971, Boeyoeng gak patah semangat kejar cita-citanya untuk belajar kecantikan ke Paris, Perancis diteruskan ke Brighton, Inggris untuk memperdalam Bahasa Inggris. Sepulang menimba pengetahuan, dia langsung dikasih tanggung jawab menjalankan usaha sang ibu. Biar lebih kuasai sektor yg dijalaninya, Boeyoeng ambil kuliah malam Akuntansi di Kampus Jayabaya. 

     

    Mendekati pernikahannya tahun 1980, ibunda Boeyoeng memberi saran anaknya untuk buka usaha dibagian garmen. Sang bunda udah siapkan semuanya. Tetapi Boeyoeng menentukan berubah menjadi perancang baju. Masa itu, perancang senior Samuel Wattimena yg mendukung serta membiayainya untuk serius berubah menjadi disainer.


    your comment



    Follow articles RSS
    Follow comments' RSS flux